Gambar Antibiotik buat Ibu Hamil

Antibiotik? Kapankah Ibu Hamil Memerlukanya?


Jika digunakan dengan tepat, antibiotika mampu melumpuhkan bahkan mematikan bakteri penyebab infeksi. Sayangnya, banyak penggunaan tidak rasional. Mulai dari dokter yang asal-asalan meresepkan antibiotik sampai pada pasien yang inisiatif menggunakan antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter lebih dulu. Akhirnya bakteri kebal terhadap antibiotik bat antibiotik kini semakin mudah dibeli.

Tak hanya di apotek, tapi juga di toko obat biasa. Artinya, masyarakat bisa mendapatkannya dengan sangat mudah, tanpa menggunakan resep dokter. Di sisi lain, tak sedikit dokter yang sangat gampang meresepkan antibiotik, bahkan untuk penyakit yang sebetulnya tidak memerlukan antibiotik, misalnya sakit flu. Malah ada yang meresepkan dua jenis antibiotik dari dua merek. Namun, ada kalanya pasien sendiri yang justru meminta diberi resep obat antibiotik. “Biar cepat sembuh,” begitu alasannya.

Gambar Antibiotik buat Ibu Hamil

Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa penggunaan antibiotik saat ini sudah makin salah kaprah, terlalu berlebihan, kadang malah tidak tepat indikasinya. Antibiotika, menurut Dr. J. Hudyono, MS, Sp.Ok, MFPM, digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau kuman. Jadi penyakit yang disebabkan oleh virus seperti pada gangguan influenza tidak membutuhkan antibiotik.



 

Menggunaakan Antibiotik Berdasarkan Perkiraan Terbaik

Bagaimana mengetahui bahwa suatu penyakit disebabkan virus atau bakteri?
Menurut Dr. Hudyono, meskipun belum diketahui persis kumannya, secara teori berdasarkan tanda dan gejalanya, dokter dapat mempre- diksi bahwa infeksi disebabkan oleh kuman dan bukan virus maupun jamur. Bila kondisinya seperti itu, dokter boleh menggunakan antibiotik berdasarkan perkiraan terbaik alias the best guess. Dengan perkiraan terbaik yang didasarkan pada evidence based atau bukti ilmiah ini, dokter bisa mendiagnosis dengan tepat serta memilih antibiotik dengan rasional.

Gambar Antibiotika untuk Ibu Hamil

Timbulnya demam dan peradangan misalnya di amandel (tonsil) menjadi indikasi infeksi bakteri. Kalau di
kulit muncul seperti bisul, biasanya karena infeksi bakteri dari golongan coccus. Bila gejalanya sudah diketahui dan merujuk pada kuman tertentu, dengan bukti ilmiah, antibiotik dapat diberikan. Obat yang dipilih pun sudah terbukti efektif mengatasi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri tertentu.
“Jika kuman dari golongan coccus, antibiotik yang digunakan biasanya dari golongan beta laktam atau makrolida. Sementara kuman yang menginfeksi saluran kemih menggunakan antibiotik golongan aminoglikosida,”.

Perkiraan terbaik ini juga sangat minimal dalam kesalahan. Kalau pasien tidak sembuh, perlu diperhitungkan kemungkinan infeksi sekunder. Bisa saja setelah terinfeksi kuman dan daya tahan tubuh menurun, virus maupun jamur menginfeksi.

Jika tidak, bisa jadi hasil laboratorium tidak cocok dengan kuman yang diprediksi sebelumnya. Bila kondisi
ini yang terjadi, antibiotika bisa diganti dengan yang lebih cocok. Masih lebih baik ketimbang tidak mengganti obatnya. Untuk itu, dokter harus cukup jeli dan cerdas dalam mengamati gejala yang timbul selama pengobatan.

Penyalahgunaan Antibiotik karena Desakan ke-Dua Pihak

Sayangnya, ada pula dokter yang menyalahgunakan pemberian antibiotika bukan berdasarkan perkiraan terbaik. “Pokoknya ada sakit, demam, gejala infeksi, tidak peduli penyebabnya, diberi antibiotika. Ini yang negatif”.

Ditambah lagi desakan pasien yang ingin cepat sembuh tanpa mampir ke laboratorium. Dengan kata lain, dokter ingin praktis sementara pasien menghindari biaya tambahan untuk pemeriksaan laboratorium.
Pasien yang pernah diberi antibiotik dan sembuh kemudian menggunakan obat tersebut ketika muncul penyakit serupa. ”Inilah yang membuat antibiotik disalahgunakan,”. Padahal, penyebab sakitnya belum tentu sama dengan yang sebelumnya, meskipun gejalanya sama.
Bagaimanapun, antibiotik tetap harus menggunakan resep dokter. Toko obat maupun apotek mestinya tidak melayani pembelian antibiotik tanpa resep. “Masalahnya terkait dengan pengawasan,”.
Dengan fakta seperti tersebut, wajar jika resistensi antibiotik dapat terjadi. Ketika pasien mengalami penyakit yang memerlukan antibiotika, sudah tidak mempan lagi. Biarpun dosis ditambah, bakteri tetap kebal, sehingga jenis antibiotika harus diganti, biasanya menjadi lebih mahal.

Idealnya ada Uji Laboratorium terhadap Antibiotik

Idealnya, antibiotik diberikan setelah dokter mendapatkan hasil uji kultur dan resistensi obat dari laboratorium. Uji kultur, misalnya, dilakukan dengan mengambil olesan dari tenggorokan. Olesan tersebut di laboratorium diinden tifikasi, bakteri apa yang menginfeksi saluran tenggorokan tersebut.

Setelah bakteri dikenali, dilihat sensitivitasnya dengan bermacam- macam jenis antibiotik yang sensitif dengan bakteri tersebut. Kemudian akan dipilih antibiotik yang sensitif dengan bakteri tersebut.
“Kalau kuman resisten terhadap antibiotik, bakteri akan terus tumbuh. Tidak ada efek dari pemberian antibiotik.” Sebaliknya, kalau sensitif terhadap antibiotik pertumbuhan bakteri terhenti.
Cara ini menjadi tindakan yang lebih teliti untuk mengobati. Sayang, uji kultur dan resistensi tersebut memakan waktu lama. Bisa beberapa hari hingga satu bulan. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah dalam praktik sehari-hari. Jika menunggu hasil laboratorium yang tergolong lama ini, dikhawatirkan pengobatan bagi pasien terlambat.
Oleh sebab itu dokter lebih sering memberikan antibiotika lebih dulu daripada menunggu hasil laboratorium yang terlalu lama, walaupun sebenarnya akan lebih baik jika memberikan antibotik ketika sudah diketahui apa kuman penyebabnya.

Antibiotika Profilaktik


Dalam keadaan tertentu, antibiotik dapat diberikan guna mencegah terjadinya infeksi. Antibiotika ini diperuntukkan bagi pasien yang akan melakukan tindakan bedah dengan risiko tinggi mendapatkan infeksi. Kondisi ini disebut sebagai antibiotika profilaktik.
Pasien yang akan melakukan operasi bedah saluran cerna yang mengharuskan membuka usus, misalnya, perlu diberikan antibiotika. Hal ini mengingat kuman di dalam usus tergolong banyak, sehingga kemungkinan terjadinya infeksi sangat besar.
Antibiotika diberikan pula kepada pasien yang terpaksa melakukan tindakan operasi bukan di ruang operasi atau operasi dalam keadaan darurat. Sekali lagi, karena kemungkinan infeksinya cukup besar. Pemberian antibiotika kemudian dilanjutkan usai operasi.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: