Mengurangi Nyeri Persalinan dengan Anestesi

Cara Atasi nyeri persalinan

Saat bersalin, seorang ibu mengalami perubahan fisiologis tubuh. Denyut jantung dan tekanan darahnya meningkat, la juga kerap gelisah dan cemas. Akibatnya, konsentrasinya dalam menghadapi persalinan menjadi terganggu. Makanya, akan lebih baik bila nyeri persalinan dapat dikurangi, bahkan dihilangkan, tanpa harus mengganggu hubungan psikologis ibu-bayi.

Berbagai perubahan fisiologis ini sangat wajar. Persalinan memang memberikan rasa nyeri. Nyeri timbul karena adanya kontraksi rahim. Nyeri yang pertama kali makin lama makin kuat dirasakan ketika janin mulai turun atau yang sering disebut bukaan pertama.

Mengurangi Nyeri Persalinan dengan Anestesi

Nyeri selanjutnya adalah ketika mulut rahim terbuka penuh atau yang sering disebut pembukaan kedua. Nyeri ini timbul karena tekanan bayi terhadap struktur panggul yang diikuti perobekan jalan lahir bagian bawah, peregangan, dan pengguntingan daerah perineum (antara vulva dan anus). Nyeri ini terasa tajam dan panas serta lebih intens dan lebih jelas dibandingkan nyeri pada bukaan pertama.

Kemampuan ibu dalam persalinan berbeda untuk dapat menahan rasa nyeri yang muncul. Nah, untuk ibu yang tidak bisa menahan rasa nyeri bisa minta dilakukan teknik anestesi analgesia spinal, epidural maupun teknik yang tanpa obat, seperti hipnosis, pengaturan nafas, dan akupunktur.

Analgesia Epidural

Untuk membantu persalinan tanpa nyeri dikenal antara lain teknik analgesia epidural, analgesia spinal, dan gabungan kedua teknik ini. Cara lain adalah pemberian obat-obatan yang disuntikkan atau dimasukkan melalui selang infus langsung ke dalam pembuluh darah.

Teknik analgesia epidural telah dikenal sejak tahun 1977. Hingga sekarang teknik ini masih menjadi cara terefektif untuk mengatasi nyeri persalinan. Analgesia epidural bahkan dapat mempersingkat proses persalinan. Ini berkat ibu yang dalam keadaan tenang, bebas dari rasa takut dan tegang.



Pada teknik analgesia epidural ini jika seorang ibu menghadapi persalinan dalam keadaan takut dan tegang akan memperlambat proses persalinan. Oleh karena itu, disarankan seorang ibu tetap tenang. Bahkan sebaiknya aktif berperan dalam proses persalinan dengan mengikuti instruksi pimpinan persalinan dengan baik.

Analgesia Spinal

Selain teknik analgesia epidural yang sudah lama kita kenal, ada pula teknik analgesia spinal
yang disebut ILA (Intrathecal Labor Analgesia). Proses bersalin normal dengan teknik ILA terbukti dapat mengatasi rasa nyeri. Bagusnya, sejauh ini tidak ada efek samping pada ibu maupun bayi yang dilahirkan.

Pada teknik ILA, obat anestesi disuntikkan ke rongga daerah serabut syaraf di tulang belakang bagian bawah (posisi ibu duduk atau berbaring miring) sehingga nyeri dapat dikurangi atau dihilangkan tanpa mengganggu proses persalinan dan ibu dalam kondisi tetap sadar. Dengan cara ini ibu tetap merasakan gejala peregangan ketika bayi akan keluar. Sementara pada teknik epidural, obat dimasukkan ke rongga epidural.

Kapan ILA diberikan?

Mengurangi rasa nyeri persalinan dengan anestesi

Suntikan diberikan saat proses persalinan sudah terjadi, ditandai dengan munculnya his (kontraksi rahim) dan rasa nyeri. Obat anestesi mulai bekerja segera setelah penyuntikan.

Efek menghilangkan rasa nyeri ini berlangsung terus selama proses persalinan. Efek samping yang mungkin timbul adalah kesemutan dan lemas pada otot tungkai tak lama setelah obat disuntikkan. Pada sejumlah ibu, kontraksi rahim dapat melambat untuk sementara, namun pada ibu yang lain, ILA justru dapat memperbaiki pola kontraksi.



ILA tidak memengaruhi kemampuan ibu dalam mengejan saat proses persalinan, malahan sebaliknya ibu dapat mengejan lebih nyaman tanpa rasa sakit. Efek samping ILA yang mungkin timbul namun dapat diatasi adalah perasaan mual, penurunan tekanan darah serta gatal-gatal ringan.

32 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini


Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!